untung suropati
|

UNTUNG SUROPATI: GUGUR PAHLAWAN DI BUMI PASURUAN

Tentang tokoh Untung Suropati dan perjuangannya melawan VOC-Belanda di kalangan masyarakat Pasuruan bukanlah sesuatu yang asing. Turun-temurun dari lintas generasi telah mewariskan kisah kepahlawanan Untung Suropati kepada generasi penerusnya dalam bentuk tradisi lisan yang berkembang di masyarakat. Selain sebagai tokoh yang menentang VOC dan Belanda, Untung Suropati merupakan Bupati Pasuruan ke-4 (1668-1704) yang mendapat gelar Tumenggung Wiranegara dari Amangkurat II.

(Sumber: Foto diunduh dari Tirto.id)

Bermula dari seorang budak belian yang berasal dari pulau Bali. Sejak berusia tujuh tahun, si budak kecil dibeli oleh pegawai VOC di Batavia bernama Kapten Moor untuk dijadikan pelayan. Semenjak memiliki budak kecil dari Bali tersebut, karir kapten Moor mengalami perkembangan yang sangat baik. Kapten Moor naik jabatan menjadi Mayor, kemudian menjadi Komisaris hingga pengangkatannya sebagai “Edele Heer”. Selain itu, profesinya sebagai pedagang di Batavia juga memberi banyak keuntungan berlimpah hingga menjadikan Moor sebagai saudagar kaya raya. Karena dianggap membawa keberuntungan bagi Kapten Edele Heer Moor, budak kecil tersebut kemudian diangkat sebagai anak dan diberi nama Untung. Adapun versi lain yang terdapat dalam Pasuruan 1830: Catatan H. J. Domis diceritakan bahwa Untung Suropati adalah anak dari Pangeran Rongosoeto dari Mataram yang sejak kecil dikirim ke Bali dan kemudian dibeli oleh saudagar untuk dibawa ke Batavia.

Beranjak dewasa, banyak perilaku Untung yang tidak disukai oleh Kapten Moor. Terlebih ketika mengetahui bahwa Untung terjerat asmara dengan anak Kapten Moor bernama Suzane. Suzane yang menyimpan rasa kepada Untung selalu memberikan harta lebih yang kemudian oleh Untung dibagikan kepada teman-teman sesama budak belian. Mengetahui tindakan Untung yang semakin menyimpang, Kapten Moor kemudian memenjarakan Untung. Bersama enam puluh pengikutnya, Untung berhasil melarikan diri dari penjara dan bersembunyi di hutan. Pengejaran dan pertempuran sengit antara tentara kompeni dan pasukan Untung tak terelakkan lagi. Meskipun jumlah tentara Belanda lebih banyak, kesigapan pasukan Untung dapat mengalahkan para kompeni. Banyaknya tentara kompeni yang tewas semakin membuat Belanda geram dan marah. Hingga akhirnya tentara Belanda mengumumkan Untung sebagai buronan kompeni dan harus ditangkap hidup atau mati. Sebanyak 100 serdadu Belanda dikerahkan untuk mencari keberadaan Untung bersama pengikutnya.

Untung bersama pengikutnya kemudian pergi ke Cirebon untuk mencari perlindungan kepada Sultan Cirebon. Dalam Babad Trunajaya-Suropati diceritakan bahwa Sultan Cirebon mempunyai abdi kesayangan yang kemudian diangkat sebagai anak bernama Suropati. Sultan sangat memanjakan Suropati dan selalu memberikan ampunan meskipun Suropati melakukan kesalahan. Sehingga Suropati tumbuh menjadi anak yang sewenang-wenang atas kekuasaan sang ayah. Suatu ketika di perbatasan masuk menuju kota Cirebon, Untung dihadang oleh Suropati dan pengawalnya. Sikap Suropati yang sewenang-wenang dan tidak sopan mengakibatkan terjadinya keributan antara bala pasukan Untung dan Suropati. Karena terdesak, Suropati melarikan diri ke istana untuk melaporkan kejadian tersebut kepada ayahandanya. Untung bersama pengikutnya pun mengejar Suropati memasuki istana Sultan Cirebon. Di dalam Istana, Untung menjelaskan niat baiknya kepada Sultan Cirebon untuk meminta perlindungan dan mengajak kerajaan Cirebon untuk melawan tentara kompeni. Karena kekuatan Cirebon masih belum siap, Sultan Cirebon menyarankan Untung pergi ke Timur meminta perlindungan kerajaan Mataram. Terkait konflik Untung dengan anak angkat Sultan Cirebon yang terbukti bersalah adalah Suropati. Dengan tegas, Sultan memberikan hukuman mati kepada anak angkat nya yang berperangai buruk dan mencemarkan nama baik negara. Sebagai bentuk penghormatan Sultan Cirebon kemudian memberikan nama Suropati kepada Untung. Budak belian asal Bali tersebut akhirnya dikenal luas dengan nama Untung Suropati.

Setelah singgah di Cirebon, Untung Suropati melanjutkan perjalanan ke Timur menuju kerajaan Mataram untuk meminta perlindungan. Saat itu, Mataram dipimpin raja bernama Raden Mas Rahmat yang bergelar Amangkurat II. Berbeda dari penguasa sebelumnya, Amangkurat II bersikap kurang senang dengan orang Belanda (VOC). Namun karena dominasi VOC dalam bidang Ekonomi dan Militer, ketidaksukaan Amangkurat II tidak secara terang-terangan. Kedatangan Untung Suropati yang meminta perlindungan ke Mataram disambut dengan baik. Bahkan Untung Suropati kemudian diangkat menjadi abdi kerajaan Mataram. Mengetahui hal tersebut, Jendral VOC di Batavia mengutus Kapten Tak untuk datang ke Mataram menangkap Untung Suropati yang menjadi buronan.

Karena tidak ingin menyerahkan Untung Suropati kepada tentara kompeni, Amangkurat II bersama Pangeran Puger menyusun siasat. Agar Mataram tidak terkesan melindungi buronan kompeni, Amangkurat II mengutus Pangeran Puger membawa Untung Suropati pergi ke Kartasura tempat Patih Arya Anrangkusuma. Siasat sandiwara dibuat seolah-olah Amangkurat II dipihak VOC yang mendukung penangkapan Untung Suropati dan Anrangkusumo pemberontak VOC yang melindungi buronan Untung Suropati. Pertempuran antara pasukan Kapten Tak dan Untung Suropati pun pecah. Sebanyak 200 bala tentara dari Mandura dan Surabaya menggempur istana di Kartasura. Untung Suropati bersama pasukan Patih Anrangkusuma mengimbanginya dengan perlawanan yang sengit. Sampai akhirnya bala tentara kompeni dapat dipukul mundur. Untung Suropati yang tengah mengamuk layaknya Banteng Ketaton menyerang tentara kompeni dengan senjata keris nya. Dalam pertempuran ini, tentara kompeni mengalami kekalahan dan banyak pasukan yang tewas. Kapten Brikman dari pihak kompeni tewas terkena tikaman keris Untung Suropati. Sedangkan Kapten Tak yang tidak mempan dengan senjata keris akhirnya berhasil dibunuh oleh Pangeran Puger yang menggunakan tombak Kyai Plered. Pertempuran antara Untung Suropati dengan pasukan kapten Tak terjadi pada tahun 1686 M.

Setelah pertempuran selesai, Untung Suropati dan Anrangkusumo dipanggil Amangkurat II untuk menghadap ke Istana. Kedatangan mereka disambut dengan baik dan pujian dari Amangkurat II karena kegigihannya dalam melawan tentara kompeni. Untuk menghindari kejaran tentara kompeni, Amangkurat II memerintahkan Untung Suropati bersama Anrangkusumo menuju daerah Pasuruhan. Untung Suropati dianugrahi gelar Tumenggung Wiranegara dan didudukkan sebagai Bupati di Pasuruhan menggantikan kedudukan adipati Anggajaya yang melarikan diri ke Surabaya karena terdesak oleh pasukan Untung Suropati. Kekuasaan Untung Suropati mendapat pengakuan dari daerah lain seperti Bangil, Prabalingga, Ngantang, Pajarakan, dan daerah sekitar Gunung Wilis. Selain itu, Untung Suropati juga berusaha menaklukkan daerah-daerah di sekitar Pasuruhan seperti Blambangan dan Madiun. Di bawah kepemimpinan Untung Suropati wilayah Pasuruhan semakin berkembang menjadi pusat perekonomian dan Bangil menjadi daerah yang ramai.  

Tahun 1706 pemerintah Belanda Kembali melakukan ekspedisi untuk menangkap Untung Suropati dan Amangkurat III dengan mengutus komisaris Mayor Goovert Knole yang mendarat di Surabaya. Bersama dengan Adipati Surabaya dan Mandura, pasukan komisaris Knole melakukan penyerangan ke Pasuruhan. Pada 16 Oktober 1706, pertempuran berdarah antara Belanda dan pasukan Untung Suropati terjadi di Bangil. Serangan Belanda membuat pasukan Untung Suropati kocar-kacir melarikan diri ke wilayah Pasuruhan. Untung Suropati mengalami luka pada bagian bahu dan meninggal pada 17 Oktober 1706. Namun, merujuk pada sumber Pasuruan 1830: Catatan H. J. Domis, Untung Suropati yang tengah terluka melarikan diri ke daerah Randu Telu yaitu wilayah Barat Daya (Pleret). Karena luka yang diderita semakin parah, Untung Suropati dibawa kembali ke Pasuruhan. Selang tiga minggu, tepatnya 15 November 1706 Untung Suropati meninggal dan dimakamkan di belakang Kebon Agung (sebelah Barat Daya Mancilang).

Berkat jasa dan kegigihannya melawan VOC dan Belanda, Untung Suropati digelari sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 106/TK/1975 pada tanggal 03 November 1975.

Sumber Rujukan

Maslihatin, A. 2020. Untung Surapati: Disadur Berdasarkan Naskah Babad Untung Surapati. Jakarta: Perpusnas Press.

Puteri, R.K.S. & Amellia, D.S. 2020. Pasuruan 1830: Catatan H. J. Domis (suntingan Teks dan Alih Bahasa). Jakarta: Perpusnas Press.

Sudibjo, Z.H. & Soeparmo, R. 1981. Babad Trunajaya – Surapati (alih aksara dan bahasa). Jakarta: Balai Pustaka.

Suryana, D. 2012. Bali: Bali dan Sekitarnya. Copyright. 2012.

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.